Saat stres melanda, sebagian orang memilih berbelanja untuk mengalihkan pikiran dan memperbaiki suasana hati. Fenomena ini dikenal sebagai retail therapy, dan memang bisa memberi rasa lega sesaat.
Sayangnya, saat dijadikan sebagai pelarian, retail therapy justru bisa menimbulkan masalah baru, baik bagi kesehatan mental maupun finansial.
Apa itu Retail Therapy?
Retail terapi adalah istilah yang digunakan ketika seseorang berbelanja bukan karena butuh, tapi untuk merasa lebih baik secara emosional. Aktivitas ini memang bisa memberi dorongan hormon bahagia seperti dopamin, serotonin, dan endorfin, terutama saat kita memilih, membayangkan, atau akhirnya membeli sesuatu yang diinginkan.
Belanja memberi rasa kendali. Saat hidup terasa kacau, memilih sendiri apa yang dibeli, bisa memberi ilusi bahwa kita masih punya kuasa atas sesuatu. Ini menjelaskan mengapa banyak orang langsung membuka aplikasi belanja saat merasa cemas, sedih, atau stres.
Namun, seperti dijelaskan oleh para ahli, efek bahagia dari retail terapi hanya bersifat sementara. Setelah perasaan itu hilang, seringkali muncul rasa bersalah, malu, atau cemas.
Baca Juga: 7 Tanda Kecanduan Belanja Online yang Perlu Diwaspadai
Bahaya di Balik Belanja untuk Meredakan Stres
Saat stres berkepanjangan, kebiasaan berbelanja sebagai pelarian bisa berubah menjadi doom spending, istilah untuk pengeluaran impulsif akibat kecemasan akan masa depan.
Doom spending menciptakan siklus buruk, stres, belanja, kelegaan sesaat, rasa bersalah, stres lebih besar, dan belanja lagi.
Belanja impulsif sering dilakukan pakai kartu kredit atau Paylater, yang akhirnya memperparah tekanan keuangan. Perilaku ini bisa merusak hubungan sosial, karena rasa malu atas pengeluaran berlebihan sering membuat orang menyembunyikan perilaku belanjanya.
Selain itu, seringkali pembelian barang hanya dipakai sekali atau bahkan tak pernah dipakai sekalipun. Hal ini justru bisa menciptakan rasa hampa dan penyesalan lebih besar setelahnya.
Baca Juga: Kecanduan Belanja Termasuk Gangguan Mental, Kenali Tanda-Tandanya
Tips Agar Terapi Retail Tidak Berkembang Menjadi Belanja Kompulsif
Sebenarnya, berbelanja sesekali untuk bersenang-senang adalah hal yang wajar, asalkan dilakukan di bawah kesadaran dan batasan. Berikut adalah beberapa tips agar terapi retail tetap sehat dan tidak merusak kehidupan:
Kenali pemicunya
Sebelum berbelanja, luangkan waktu sejenak untuk memeriksa emosi Anda. Apakah Anda sedang stres karena pekerjaan? Merasa kesepian? Atau sedang marah?
Banyak orang berbelanja bukan karena membutuhkan barang, tetapi untuk meredakan ketegangan emosional. Dengan memahami apa yang memicu dorongan tersebut, Anda bisa menilai apakah belanja benar-benar solusi atau hanya pelarian sementara.
Terapkan aturan tunggu 24 jam
Keinginan spontan membeli sesuatu biasanya muncul bersamaan dengan emosi intens. Berikan jarak waktu selama 24 jam untuk Anda kembali berpikir jernih.
Gunakan uang tunai, bukan kartu kredit
Metode pembayaran memengaruhi persepsi nilai. Membayar dengan uang tunai membuat Anda lebih sadar bahwa ada uang yang benar-benar keluar dari dompet.
Sebaliknya, kartu kredit, paylater, atau QRIS bisa membuat transaksi terasa ringan, padahal konsekuensi finansialnya juga berat.
Batasi paparan
Terlalu banyak melihat iklan, promo, atau flash sale membuat otak terus terpicu untuk membeli. Maka, ciptakan lingkungan digital yang lebih sehat.
Hentikan langganan email promo, matikan notifikasi aplikasi belanja, batasi scroll media sosial yang sering menampilkan konten sponsor.
Ganti dengan aktivitas yang lebih sehat
Jika Anda sadar bahwa belanja menjadi pelarian emosional sesaat, sebaiknya cari alternatif aktivitas yang memberi rasa lega tanpa konsekuensi negatif. Misalnya olahraga ringan, mendengarkan musik, menulis jurnal, atau sekedar ngobrol dengan teman atau orang terdekat.
Jika Anda merasa sudah tak mampu menghentikan kebiasaan belanja meski tahu dampaknya merugikan, jangan ragu berkonsultasi dengan psikolog. Anda bisa memanfaatkan layanan konsultasi kesehatan Ai Care yang tersedia di App Store atau Play Store.
Mau tahu informasi seputar penyakit lainya? Cek di sini, yah!
- dr Nadia Opmalina
Cleveland Clinic (2024). Why ‘Retail Therapy’ Makes You Feel Happier. Available from: https://health.clevelandclinic.org/retail-therapy-shopping-compulsion
Wendy Wisner (2025). Why Doom Spending Isn't the Stress Relief You Think You Need. Available from: https://www.verywellmind.com/doom-spending-to-relieve-stress-11713583
Elizabeth Hartney, BSc, MSc, MA, PhD (2025). What Is a Shopping Addiction?. Available from: https://www.verywellmind.com/shopping-addiction-4157288